Tafsir Al-Jalalayn
﴿حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَات﴾ الْخَمْس بِأَدَائِهَا فِي أَوْقَاتهَا ﴿وَالصَّلَاة الْوُسْطَى﴾ هِيَ الْعَصْر أَوْ الصُّبْح أَوْ الظُّهْر أَوْ غَيْرهَا أَقْوَال وَأَفْرَدَهَا بِالذِّكْرِ لِفَضْلِهَا ﴿وَقُومُوا لِلَّهِ﴾ فِي الصَّلَاة ﴿قَانِتِينَ﴾ قِيلَ مُطِيعِينَ لِقَوْلِهِ ﷺ كُلّ قُنُوت فِي الْقُرْآن فَهُوَ طَاعَة رَوَاهُ أَحْمَد وَغَيْره وَقِيلَ سَاكِتِينَ لِحَدِيثِ زَيْد بْن أَرْقَم كُنَّا نَتَكَلَّم فِي الصَّلَاة حَتَّى نَزَلَتْ فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوتِ وَنُهِينَا عَنْ الْكَلَام رَوَاهُ الشَّيْخَانِ ٢٣ -
Peliharalah semua salat [yang lima waktu dengan melaksanakannya pada waktunya] dan salat wustha [yaitu salat Asar, atau Subuh, atau Zuhur, atau lainnya; ini adalah beberapa pendapat, dan ia dikhususkan penyebutannya karena keutamaannya]. Dan berdirilah karena Allah [dalam salat] dengan khusyuk [ada yang berpendapat: dengan taat, berdasarkan sabda Nabi SAW, "Setiap kata qunut dalam Al-Qur'an bermakna ketaatan," diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya. Ada pula yang berpendapat: dengan diam, berdasarkan hadis Zaid bin Arqam, "Dahulu kami berbicara dalam salat hingga turun ayat ini, maka kami diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara," diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani (Al-Bukhari dan Muslim)].