﴿قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ﴾ مِنْهَا ﴿سَنُعِيدُهَا سِيرَتهَا﴾ مَنْصُوب بِنَزْعِ الْخَافِض أَيْ إلَى حَالَتهَا ﴿الْأُولَى﴾ فَأَدْخَلَ يَده فِي فَمهَا فَعَادَتْ عَصًا فَتَبَيَّنَ أَنَّ مَوْضِع الْإِدْخَال مَوْضِع مَسْكهَا بَيْن شُعْبَتَيْهَا وَأُرِيَ ذَلِكَ السَّيِّد مُوسَى لِئَلَّا يَجْزَع إذَا انْقَلَبَتْ حَيَّة لَدَى فِرْعَوْن
٢ -
Dia [Allah] berfirman, "Peganglah ia dan jangan takut" [kepadanya], "Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya" [manshub dengan membuang huruf khafidh, yaitu: ke keadaannya] "yang semula" [maka Musa memasukkan tangannya ke dalam mulut ular itu, lalu ular itu kembali menjadi tongkat. Maka jelaslah bahwa tempat memasukkan tangan itu adalah tempat memegangnya di antara dua cabangnya. Hal itu diperlihatkan kepada Nabi Musa agar beliau tidak terkejut apabila tongkat itu berubah menjadi ular di hadapan Firaun]. 2 -