﴿إنَّ اللَّه يَأْمُركُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَات﴾ أَيْ مَا اُؤْتُمِنَ عَلَيْهِ مِنْ الْحُقُوق ﴿إلَى أَهْلهَا﴾ نَزَلَتْ لَمَّا أَخَذَ عَلِيّ ﵁ مِفْتَاح الْكَعْبَة مِنْ عُثْمَان بْن طَلْحَة الحجبي سَادِنهَا قَسْرًا لَمَّا قَدِمَ النَّبِيّ ﷺ مَكَّة عَام الْفَتْح وَمَنَعَهُ وَقَالَ لَوْ عَلِمْت أَنَّهُ رَسُول اللَّه لَمْ أَمْنَعهُ فَأَمَرَ رَسُول اللَّه ﷺ بِرَدِّهِ إلَيْهِ وَقَالَ هَاكَ خَالِدَة تَالِدَة فَعَجِبَ مِنْ ذَلِكَ فَقَرَأَ لَهُ عَلِيّ الْآيَة فَأَسْلَمَ وَأَعْطَاهُ عِنْد مَوْته لِأَخِيهِ شَيْبَة فَبَقِيَ فِي ولده الآية وَإِنْ وَرَدَتْ عَلَى سَبَب خَاصّ فَعُمُومهَا مُعْتَبَر بِقَرِينَةِ الْجَمْع ﴿وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْن النَّاس﴾ يَأْمُركُمْ ﴿أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إنَّ اللَّه نِعِمَّا﴾ فِيهِ إدغام نِعْمَ فِي مَا النَّكِرَة الْمَوْصُوفَة أَيْ نِعْمَ شَيْئًا ﴿يَعِظكُمْ بِهِ﴾ تَأْدِيَة الْأَمَانَة وَالْحُكْم بِالْعَدْلِ ﴿إنَّ اللَّه كَانَ سَمِيعًا﴾ لِمَا يُقَال ﴿بَصِيرًا﴾ بما يفعل
٥ -
[Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat-amanat] yakni hak-hak yang dipercayakan [kepada pemiliknya] ayat ini turun ketika Ali ﵁ mengambil kunci Ka'bah dari Utsman bin Thalhah Al-Hajabi, juru kuncinya, secara paksa saat Nabi ﷺ tiba di Makkah pada tahun penaklukan (Fathu Makkah). Utsman sebelumnya menahannya seraya berkata, "Seandainya aku tahu bahwa beliau adalah Rasulullah, tentu aku tidak akan menahannya." Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk mengembalikannya kepada Utsman seraya bersabda, "Ambillah ini untuk selamanya dan turun-temurun." Utsman pun kagum akan hal itu, lalu Ali membacakan ayat ini kepadanya sehingga ia masuk Islam. Dan menjelang wafatnya, Utsman menyerahkan kunci itu kepada saudaranya, Syaibah, sehingga kunci itu tetap berada pada keturunannya. Ayat ini, meskipun turun berdasarkan sebab yang khusus, keumumannya tetap diperhitungkan berdasarkan indikasi bentuk jamak. [dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia] Dia menyuruh kalian [agar menetapkan hukum secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang terbaik kepada kalian] di dalam lafaz *ni'imma* terdapat idgham *ni'ma* ke dalam *ma* nakirah yang disifati, yaitu sebaik-baik hal [yang Dia ajarkan kepada kalian] yakni menyampaikan amanat dan menetapkan hukum dengan adil. [Sesungguhnya Allah Maha Mendengar] terhadap apa yang diucapkan [lagi Maha Melihat] terhadap apa yang diperbuat.