Tafsir Al-Jalalayn
﴿قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَهْدِي إلَى الْحَقّ﴾ بِنَصْبِ الْحُجَج وَخَلْق الِاهْتِدَاء ﴿قُلْ اللَّه يهدي للحق فمن يَهْدِي إلَى الْحَقّ﴾ وَهُوَ اللَّه ﴿أَحَقّ أَنْ يُتَّبَع أَمَّنْ لَا يَهِدِّي﴾ يَهْتَدِي ﴿إلَّا أَنْ يُهْدَى﴾ أَحَقّ أَنْ يُتَّبَع اسْتِفْهَام تَقْرِير وَتَوْبِيخ أَيْ الْأَوَّل أَحَقّ ﴿فَمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ﴾ هَذَا الْحُكْم الْفَاسِد مِنْ اتِّبَاع مَا لَا يحق اتباعه ٣ -
Katakanlah, "Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat menunjuki kepada kebenaran?" [dengan menegakkan hujjah-hujjah dan menciptakan hidayah]. Katakanlah, "Allah menunjuki kepada kebenaran." Maka apakah [Zat] yang menunjuki kepada kebenaran [yaitu Allah] lebih berhak untuk diikuti ataukah [berhala] yang tidak dapat memberi petunjuk [maksudnya: tidak mendapat petunjuk] kecuali diberi petunjuk? [apakah lebih berhak untuk diikuti? Ini adalah pertanyaan retoris untuk mengukuhkan/taqrir sekaligus mencela/tawbi'h, maksudnya yang pertama lebih berhak untuk diikuti]. Maka mengapa kamu [berbuat demikian]? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan [keputusan yang rusak ini dengan mengikuti apa yang tidak berhak untuk diikuti]?