﴿قال رب إنِّي وَهَنَ﴾ ضَعُفَ ﴿الْعَظْم﴾ جَمِيعه ﴿مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْس﴾ مِنِّي ﴿شَيْبًا﴾ تَمْيِيز مُحَوَّل عَنْ الْفَاعِل أَيْ انْتَشَرَ الشَّيْب فِي شَعَره كَمَا يَنْتَشِر شُعَاع النَّار فِي الْحَطَب وَإِنِّي أُرِيد أَنْ أَدْعُوَك ﴿وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِك﴾ أَيْ بِدُعَائِي إيَّاكَ ﴿رب شقيا﴾ أي خائبا فِيمَا مَضَى فَلَا تُخَيِّبنِي فِيمَا يَأْتِي
Dia [Zakaria] berkata, "Ya Rabbku, sungguh telah lemah [menjadi lemah] tulang [semua tulang] ku, dan telah menyala kepala [ku] dengan uban," [kata 'syaiban' adalah tamyiz yang diubah dari fa'il, artinya uban telah menyebar di rambutnya sebagaimana jalaran api menyebar pada kayu bakar, dan sungguh aku ingin berdoa kepada-Mu] "dan aku belum pernah dalam berdoa kepada-Mu, [maksudnya dalam doaku kepada-Mu] ya Rabbku, merasa kecewa," [maksudnya rugi atau kecewa di masa lalu, maka janganlah Engkau kecewakan aku di masa yang akan datang].