﴿فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ﴾ الْجِنْس ﴿ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إذا خَوَّلْنَاهُ﴾ أَعْطَيْنَاهُ ﴿نِعْمَة﴾ إنْعَامًا ﴿مِنَّا قَالَ إنَّمَا أُوتِيته عَلَى عِلْم﴾ مِنْ اللَّه بِأَنِّي لَهُ أَهْل ﴿بَلْ هِيَ﴾ أَيْ الْقَوْلَة ﴿فِتْنَة﴾ بَلِيَّة يُبْتَلَى بِهَا الْعَبْد ﴿وَلَكِنَّ أَكْثَرهمْ لَا يَعْلَمُونَ﴾ أَنَّ التَّخْوِيل اسْتِدْرَاج وَامْتِحَان
٥ -
Maka apabila manusia [maksudnya jenis manusia] ditimpa oleh suatu bahaya, dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami memberikan kepadanya [Kami menganugerahkannya] nikmat [sebagai suatu pemberian nikmat] dari Kami, dia berkata, "Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku" [dari Allah bahwa aku memang layak menerimanya]. Sebenarnya itu adalah [yaitu ucapan tersebut] ujian [suatu cobaan yang dengannya seorang hamba diuji], namun kebanyakan mereka tidak mengetahui [bahwa pemberian nikmat itu adalah bentuk penangguhan (istidraj) dan ujian].