Tafsir Al-Jalalayn
﴿كَأَنَّهُمْ يَوْم يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا﴾ فِي قُبُورهمْ ﴿إِلَّا عَشِيَّة أَوْ ضُحَاهَا﴾ عَشِيَّة يَوْم أَوْ بُكْرَته وَصَحَّ إِضَافَة الضُّحَى إِلَى الْعَشِيَّة لِمَا بَيْنهمَا مِنْ الْمُلَابَسَة إِذْ هُمَا طَرَفَا النَّهَار وحسن الإضافة وقوع الكلمة فاصلة
[Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal] di dalam kubur mereka [melainkan sebentar saja di waktu sore atau di waktu pagi hari.] sore suatu hari atau pagi harinya. Dan sah mengidafahkan (menyandarkan) dhuha kepada 'asyiyyah karena adanya hubungan erat di antara keduanya, mengingat keduanya adalah dua ujung siang, dan keindahan idafah ini juga dipengaruhi oleh kedudukan kata tersebut sebagai fasilah (rima akhir ayat).